Selasa, 16 Agustus 2011

Orangtua kunci sukses keberhasilan pulihnya anak

Banyak sharing bertanya apakah anak mereka akan bisa kondisinya lebih baik setelah menjalani suatu terapi ?
Sebenarnya, kunci dari keberhasilannya terletak pada kedisiplinan kita selaku orangtua dalam mensupport anak dalam menjalani masa terapi terutama pada saat berada di rumah. Kita sangat menyadari bahwa anak sebagian besar waktunya bukan berada ditempat terapi, tetapi berada di rumah. Nah peran kita sangat jelas,  bagaimana kita mencoba menerapkan  apa  yang telah diajarkan di tempat terapi untuk diterapkan di rumah  termasuk juga menerapkan pola diet yang tepat, mengajak anak bersosialisasi pada lingkungan sekitar rumah maupun diluar lingkungan rumah. Jadi tidak keberhasilan pemulihan anak tidak hanya bergantung hanya pada terapis semata . Hal ini juga sempat dikeluhkan beberapa teman terapis, bahwa mereka disalahkan orangtua anak bila tidak ada kemajuan pada anaknya , padahal dietnya sendiri tidak dijalankan , di rumah ortu tidak mengajarkan pada anak , dan lebih fatal banyak pelanggaran terhadap makanan yang didietkan bahkan tidak diet sama sekali.
Janganlah kita beranggapan bahwa setiap terapi anak akan pulih semudah membalikkan telapak tangan  , semua pasti berjalan pelan bahkan tanpa kita sadari mengingat kedekatan kita dengan anak, tidak jarang malah pihak lain (seperti guru, tetangga, dll) yang bisa mengetahui perubahan pada anak kita. Pelan tapi pasti.. maka evaluasilah apakah terapi dan apa yang orangtua lakukan sudah berjalan baik, apakah saran saran terapis juga ikut diterapkan di rumah.
Apakah cukup dengan memberikan suplemen? pemberian suplemen tidak akan banyak membantu, bahkan bila digunakan secara sembarangan bisa menimbulkan masalah baru. Andaikan boleh kita menganggap manusia adalah kendaraan, bila  mesin kendaraan yang bermasalah tentunya tidak cukup hanya dengan mengganti oli kendaraan tsb saja, tetapi mesinnya yang harus diperbaiki terlebih dahulu .

Perihal Diet
Pada komunitas AFG (Autis Family Group) yang beranggotakan 30 member , para member mencoba menerapkan diet yang telah kami lakukan sebelumnya , dan alhamdulillah berjalan lebih baik ketimbang diet yang mereka lakukan sebelumnya. Memang diet tidak akan menyembuhkan anak, namun bila diterapkan , hasilnya akan jauh lebih baik, antara lain dalam pemusatan perhatian , hiperaktif berkurang, tidur nya semakin berkualitas. Beberapa bahan makanan yang kami dietkan antara lain : terigu, susu, gula pasir, gula jawa makanan dari umbi (kecuali kentang) termasuk singkong, garut,ubi dan produk turunannya, lalu ada ketan, kacang-kacangan termasuk kedelai, kacang tanah, biji-bjian termasuk jagung, wijen, kemudian sayur wortel, seafoods, buah hanya pir dan blue beri yang boleh, mentega, ragi
Waduh mengapa banyak sekali ?? terus anak saya makan apa ??? itu yang sering terucap dari member AFG. Makanan di indonesia ini masih banyak sekali yang aman, dan kami yakin para ortu dapat memperoleh makanan dengan mudah tentunya akan lebih baik dengan mengolah sendiri makanan anaknya .

Terus sampai kapan anak diet ? tentunya sampai pencernaannya berfungsi baik dan makanan tidak berdampak buruk pada perilaku nya. Yang menjadi pertanyaan, apakah telah kita coba untuk memperbaiki pencernaannya (sebagai "sebagian besar" pusat permasalahannya) dengan terapi dan diet? ataukah hanya meredam perilaku , menerapi wicara nya saja karena anak belum bisa mengeluarkan sepatah kata ?

Berdasarkan pengalaman keluarga kami, dulu anak kami hanya terapi alternatif di biomedika dan hanya menjalani diet selama 2 tahun setelah terapi.( terapi pada umur 8 tahun), kini bisa dikatakan kondisi pencernaannya sudah baik, tidak ada perubahan perilaku misalnya apabila diet tidak dilakukan. Namun Ajeng akan menolak bila diberikan makanan misalnya roti yang mengandung terigu....
salam peduli autis

Sabtu, 30 Juli 2011

PDD

Pervasive Developmental Disorder (PDD)

Pervasive Developmental Disorder (PDD) merupakan kelompok gangguan perkembangan yang biasanya terlihat nyata ketika anak berumur 3 tahun, namun tanda-tanda gangguan ini biasanya sudah terlihat sebelum anak berusia 3 tahun. Sehingga deteksi dini sebelum anak berusia 3 tahun sangatlah diperlukan agar penanganan yang tepat dapat segera diberikan.
Secara umum, anak-anak dengan PDD biasanya mengalami tiga gangguan yaitu gangguan komunikasi (misal: kesulitan berbicara), gangguan interaksi (misal: tidak mau bermain dengan anak seusianya atau orang lain), dan gangguan perilaku (misal: perilaku repetitive – stereotipik/perilaku “aneh” yang dilakukan berulang-ulang). Berdasarkan definisi DSM IV(American Psychiatric Association, 1994), PDD merupakan gangguan dalam interaksi social, gangguan dalam berkomunikasi, dan adanya keterpakuan tingkah laku, minat dan aktivitas.
Berdasarkan klasifikasi DSM IV tersebut terdapat 5 bentuk PDD yaitu:
  1. Autism
  2. Asperger Syndrome
  3. SDD (Childhood Disintegrative Disorder)
  4. Rett Disorder
  5. PDD NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified(www.toddlerstoday.com)
Selain kelima bendtuk PDD di atas, ada gangguan yang sering dikaitkan dengan PDD namun bukan termasuk kelompok dengan PDD, yaitu Fragil-X (Handbook KOnferensi Nasional Autisme, Jakarta, 2003). Penjelasan rinci mengenai gangguan ini anakan diuraian lebih lanjut.

AUTIS

Gangguan ini lebih

Rabu, 27 Juli 2011

kartunku

Kesukaan terhadap film yang ditonton, boneka  yang sering dibawa  main..menjadikanya inspirasi untuk berkarya. 
contohnya upin & ipin :
KALAU INI HASIL IMAGINASI KU LOO:

Senin, 25 Juli 2011

Pengalaman mendaftarkan sekolah SMP Ajeng ( bagian II) : Sekolah non Inklusi mau terima

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya ,

Setelah mencabut berkas pendafataran di SMP tersebut, kami daftar ajeng di SMP Muhamadyah yang berada 500 m dari rumah. Alhamdulillah, bapak kepala sekolah nya sangat welcome dengan kondisi ajeng walaupun sekolah ini belum pernah menerima anak ABK. bahkan beliau sangat excited dengan Ajeng .Dengan membawa serta ajeng saat mendaftar, paling tidak pihak sekolah bisa mengetahui kondisi ajeng sebenarnya. Walau nanti 3 bulan ke depan akan dievaluasi apakah Ajeng bisa mengikuti terus di sekolah tersebut ataukah tidak. Bagi kami, ini adalah keputusan yang bijak,

Selasa, 12 Juli 2011

2000 ABK di DIY Tak Sekolah

Kedaulatan Rakyat tgl 13 Juli 2011 menulis
, sedikitnya 2000 anak berkebutuhan khusus (ABK) di DIY tidak dapat bersekolah, padahal jumlah sekolah inklusi masih mencukupi. Kurangnya kesadaran orangtua menjadi salah satu penyebabnya. Dikhawatirkan hal ini bisa memperburuk kondisi anak dikemudian hari.
Hal ini diungkapkan oleh Kabid Pendidikan ,Pemuda dan Olahraga DIY , Sri Widayati. Kurangnya kesadaran tsb karena orangtua merasa rendah diri terhadap kondisi anaknya serta keterbatasan biaya.
tgl 5 Juli 2011 menulis229 ribu ABK

Pengalaman Mendaftarkan SMP Ajeng (bagian 1)

Masa Penerimaan murid di sekolah tahun ajaran 2011/2012 segera berakhir. ada pengalaman tersendiri bagi kami pada saat mendaftarkan Ajeng di SMP swasta dan pilihan kami pada 2 (dua) SMP swasta di seputar tempat tinggal kami.

SMP Pilihan pertama,
kami datangi menjelang 3 hari penutupan penerimaan murid, semua berkas lengkap termasuk SKHUN asli, surat pengantar psikolog mengenai kondisi anak..termasuk info lisan saya mengenai kondisi Ajeng. Dan panitia menyatakan menerima Ajeng dengan alasan pengalaman mereka pernah menerima abk , selain itu karena kapasitas 72 murid dan ajeng pendaftar ke 60an, dan lebih memprioriaskan casis yang benar benar mendaftar murni dengan niatan penuh di sekolah tsb (entu saja karena SKHUN yang diserahkan adalah asli ) . Keesokan harinya

Selasa, 24 Mei 2011

Sekolah (yang ngakunya) inklusi, keberatan memiliki anak didik inklusi ...anehhh !!

Untuk teman-teman di Yogya...pilihlah sekolah yang tepat untuk anak anda , harapan kami janganlah  masukkan anak anda ke sekolah inklusi TI yang banyak kebohongan dan kezaliman disana..bila anda ingin konfirmasi pembanding silahkan hub kami atau Lembaga Ombudsman swasta DIY, Dinas pendidikan sleman , dan  juga guru-guru eks sekolah TI tsb.

Minggu, 06 Maret 2011

Banyak Tes Alergi Tidak Direkomendasikan

Dari banyak ortu yang sharing , mereka telah melakukan analisa alergi terhadap anak-anaknya.
Namun banyak diantara kita tidak mengetahui jenis tes alergi yang direkomendasikan dan juga sebaliknya.
berikut adalah tulisan dari ahli alergi di indonesia dr.Widodo Judarwanto  :

Minggu, 30 Januari 2011

U crit dan Frutyy





 Kegiatan 30 januari 2011...masih seputar kambing etawa punya bude... si Ucrit dan Frutyy...permintaan yang diajukan  lebih dari 2 minggu lalu.. akhirnya ...ketemu lagi dg si Kambing...di elus -elus, diberi makan sampai dinaikin seperti kuda ...asyiikkkk !! 
 

Selasa, 28 Desember 2010

Mengenal Autis Asperger

Asperger berbeda dengan Autis ?
09/24/2005 Oleh: Leny Marijani
http://puterakembara.org/archives3/00000028.shtml

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis.

Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe.

Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 - 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun.

Minggu, 05 Desember 2010

Wonosari 5 des 2010

 Bantu-bantu pengrajin makanan di wonosari..desa Mendungan, Bandung, Playen, Gunung Kidul
Mari kubantu bikin Lantingnya ....
lihat lah gayanya begitu PeDe nya

Bude...ini kambing lucu banget...kugendong ya...!!!



Desember 06 2010

Kamis, 25 November 2010

3 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN !!!


PERMASALAHAN & PENENTU KEBERHASILAN PENYEMBUHAN

3 Permasalah utama autis
Belum banyak diantara orangtua anak berkebutuhan khusus tahu bahwa anak autis bermasalah dengan :
1) pencernaan, 2) otak , 3)sistem kekebalan tubuhnya.

Namun, ortu anak banyak mengenal terapi psikologis dan telah mengikutkannya pada terapi seperti terapi perilaku, wicara .
Sebenarnya apa yang perlu diperbaiki terlebih dahulu?? apakah perilakunya yang merupakan efek dari adanya gangguan di tubuh anak ataukah memperbaiki tubuh anak dulu ? Apakah penyebab cukup  hanya dengan terapi psikologis saja?

Tulisan ini tidak

Sabtu, 25 September 2010

September

             Jualan Kolak waktu pesantren kilat              Menunggu care4 buka


               Lebaran di tempat Pak de                   Asik makan di acara kondangan

                 Pameran Teknologi Tepat Guna yang dibuka SBY 22 Sept lalu

Sabtu, 14 Agustus 2010

Benteng Vredeburg 31 Juli 2010 ( Nol Km) Yogyakarta

Jalan jalan ke benteng vredeburg , pusat kota yogya, seputar malioboro




Wah kelihatan nih keramaian kota di seputar 0 km yogyakarta dari atas benteng