EFEKTIVITAS TERAPI DIET
Tulisan berikut adalah pendapat pribadi saya , berdasarkan sharing dari para orangtua yang telah lama menerapkan terapi diet pada anaknya . Mungkin bisa jadi perenungan kita semua dalam menilai efektifitas terapi diet pada anak kita.
Ketika Ajeng didiagnosa autis pada umur 2 tahun ( 9 tahun yang lalu), sampai dengan usia ke 8 tahunnya, kami belum menerapkan diet pada anak kami. Karena berbagai pertimbangan, antara lain kesulitannya untuk makan. Terapi diet baru kami terapkan saat di terapi oleh Bpk.Drh.Haris Guntur . Terapi biomedis ini berlangsung 5-6 bulan .
Hingga kini Ajeng tetap tidak mau makan makanan yang didietkan, walau pencernaannya sudah baik.
Pada beberapa bulan yang lalu, ada orangtua anak sharing ..bahwa ia telah menerapkan terapi diet sejak anak usia 2 tahun dan hingga kini anak berusia 9 tahun, juga mengikutkan anak pada terapi wicara, perilaku. Namun tetap saja anak tidak dapat berkembang seperti yang diharapkan. Jangankan untuk berbicara, memanggil Ayah saja..tidak pernah terucap dari sang anak.
Dari Bapak Haris, saya mendapatkan informasi yang menarik, bahwa anak autis tentunya punya masalah dengan pencernaannya, hal ini terlihat kenapa ia tidak boleh makan-makanan tertentu. Seperti, minum/ makanan yang mengandung susu, pasti ada yang tertinggal di pencernaan, menjadi jamur dan terbawa peredaran darah termasuk ke otak. Otak sebagai pusat kendali tubuh tercemari dan mengganggu syaraf tubuh.
Akibatnya terjadilah gangguan seperti perilaku, bicara, sosial, konsentrasi. Kejadian ini tentunya telah berlangsung lama dan tidaklah mudah mengatasinya.
Lantas apakah efektif dengan pemberian suplemen ? beliau menjawab, sebagai ilustrasi ibaratnya mesin rusak pemberian oli yang nomor 1 pun tidak akan banyak membantu kinerja mesin, tetapi bila mesinnya diperbaiki terlebih dahulu tentunya akan sangat sinergi dengan pemberian oli yang baik. Begitu pula dengan pencernaan anak, akan tidak efektif dengan hanya pemberian suplemen, tetapi perbaiki pencernaannya terlebih dahulu , diet dan suplemen yang tepat tentu hasilnya akan maksimal.
Tetapi, karena sudah berlangsung lama, “ keracunan” pada anak mengakibatkan gangguan , termasuk tidak balance nya aspek sosial dan motorik pada anak. Jadi setelah pencernaan, baru kemudian diperbaiki gelombang otaknya, dengan demikian apa yang diperintahkan otak sinergi dengan yang dilakukan oleh anak.
Semoga bermanfaat
Riswanto 081 2275 34788
1 komentar:
terima kasih artikelnya, saya jg punya anak autis, saya masih perlu banyak informasi soal apa penyebab kenapa anak saya bisa autis, terima kasih sekali lagi... :)
Posting Komentar