Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Jumlah kasus autisme mengalami peningkatan yang signifikan. Jika tahun 2008 rasio anak autis 1 dari 100 anak, maka di 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 dari 88 orang anak saat ini mengalami autisme.
Hasil penelitian ini dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Perkiraan ini mengalami peningkatan 23% dibandingkan data tahun 2008, yaitu 1 dari 100 anak yang menderita autisme.
Sedangkan pada tahun 2002, diperkirakan 1 dari 150 anak menderita autisme dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 1 dari 110 anak.
Dalam laporan CDC's Morbidity and Mortality Weekly Report yang diluncurkan akhir Maret 2012 lalu, CDC menjelaskan bahwa peningkatan autisme ini paling banyak terjadi pada anak-anak Hispanik dan Afrika-Amerika. Autisme jauh lebih banyak dialami anak laki-laki,
Anak dengan ADHD (Attention Defisit Hiperactive Disorder) atau GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas) membutuhkan banyak perhatian orang tua. Selain terapi medikasi, diperlukan terapi lain yang menyeluruh. Tak perlu menyalahkan, namun juga jangan menganakemaskan atau menganaktirikannya.
Secara kasat mata Kiki (4) sama seperti anak normal lainnya. Tapi orang-orang yang mengenalnya atau sering berhubungan dengannya akan merasakan betapa sulitnya berurusan dengan anak ini. Kiki terkenal sering menjahili teman-teman sebayanya, mengganggu mereka belajar, lari kesana kemari, atau bertengkar. Namun Dewi (32), ibu Kiki tidak merasa khawatir akan anaknya. Ia menganggap keaktifan Kiki masih terbilang wajar.
Dewi berkeyakinan, di usia tersebut anak-anak memang sedang aktif mengeksplorasi apa yang ada di sekitarnya, dan selalu ingin mencoba banyak hal, selama Kiki mau mendengarkan larangan, perintah, dan nasihat dari orang tuanya, gurunya, dan orang lain yang patut di hormati, Dewi tak perlu mengkhawatirkan perilaku anaknya.
Tetapi bagaimana bila anak tersebut ternyata sangat sulit diatur. Larangan dan perintah orang tua dan guru, hanya ampuh beberapa menit bahkan detik saja. Selebihnya, ia tidak mau bekerja sama, tidak mau diam, dan berbagai bentuk kebandelan lain yang sudah mengancam “stabilitas” kelas, rumah, atau bahkan tempat umum?
Psikiater Anak, Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM mengatakan,banyak orang tua tidak merasa khawatir bila anaknya yang masih berusia balita terkesan sangat aktif. Meski kadang melelahkan dan menimbulkan kekesalan, tapi memang begitulah ulah balita yang sehat. Mereka sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Menyentuh, memegang, mencium, bahkan memakan apapun yang menarik perhatiannya, adalah bagian dari proses yang perlu ia jalani dalam siklus kehidupannya.
Tapi bila aktivitas tersebut sudah di luar batas kewajaran, dan tak dapat terkontrol, perlu di waspadai apakah anak itu menderita Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Anak dengan kecenderungan beraktivitas berlebihan (hiperaktif) dan sulit berkonsentrasi itu, biasanya mulai terlihat pada usia 2 tahun.
Dari banyak teman yang sudah melakukan tes alergi pada anaknya , hasilnya akan dapat diketahui bahwa anak mengalami alergi pada jenis jenis makanan tertentu, seperti misalnya alergi susu, kacang, susu sapi dll. Tapi apakah cukup hanya menghindari makanan alerginya saja ataukah lebih dari itu ? berdasarkan sharing dari banyak teman baik di komunitas kami , juga dari share di non komunitas baik di BB, FB maupun telpon langsung....ternyata pemberian makanan hanya menghindari alergi saja.Ketika mereka mengetahui dan membandingkan diet yang telah kami terapkan terhadap ajeng ...mereka berkata ...alangkah banyak dietnya !!.. ya memang di Biomedika plus, dietnya cukup ketat..namun anak tidak diet lama, hanya sekitar 1-2 tahun saja. Bagi anda yang memiliki abk dengan usia balita mungkin belum bisa merasakan efeknya, tetapi bagi para ortu yang memiliki anak diatas usia 10 tahun pasti akan bisa merasakan, seperti misalnya hari ini share dengan ortu anak autis hiper usia 12 tahun, berpegang dari hasil tes alergi, bahwa anak tidak bermasalah dengan terigu, dan dengan hasil tes ini, anak tetap mengkonsumsi terigu (jangka panjang ) dan sejak usia 3 tahun juga dilakukan terapi ABA dan TW(terapi wicara) telah dilakukan sejak usia 3 tahun (bayangkan sudah 9 tahun), namun kondisi anak masih hiper dan perilaku juga masih buruk juga masih non verbal. (Bayangkanlah bila anak tanpa diet sama sekali ..)..Seperti rasanya ada yang sia-sia dilakukan selama ini... keluh ortunya . Kami dikomunitas selalu menyuarakan bahwa diet itu penting dan diet tidak cukup hanya menghindari alergi saja, karena ada banyak makanan lain yang bisa berefek buruk bila dikonsumsi abk.. karena tidak mampu tercerna baik..kemudian akan menjadi jamur yang bisa mengganggu .Janganlah khawatir akan kekurangan gizi, masih banyak makanan yang dapat kita olah yang bergizi untuk anak kita. Janganlah anak diberikan sembarang suplemen , selain terserapnya sedikit sekali , dan efek sampingnya bisa memperburuk kondisi anak. Jangan juga kita selaku ortu , mencap bahwa semakin mahal suplemen adalah bagus, jangan juga beranggapan suplemen aman apalagi konsumsi jangka panjang, apalagi suplemen sebagaian besar tidak dikondisikan untuk anak autis. Alhamdulillah, para ortu yang menerapkan pola diet ( yang pernah kami terapkan) pada anaknya, berbagi info kalau anaknya semakin baik perkembangannya, antara lain dari segi emosi, focus dan lebih tenang. Jadi lakukan diet dengan tepat..!! Bila kurang jelas..silahkan hub kami di081227534788 Salam berbagi dari kami yang peduli autis ..semoga bermanfaat untuk semua.